Thursday, January 15, 2009

cerpen

DEMI CINTA



Sore itu hujan turun dengan derasnya,angin bertiup sangat kencang. Perlahan,ku kendarai mobilku agar segera sampai di rumah. Karna hari ini adalah hari yang paling bersejarah bagi kakakku jadi aku harus sampai di rumah tepat waktu. Yach,hari ini adalah hari ulangtahun kakakku. Aku sudah mempersiapkan kado istimewa buat dia. Yaitu jam tangan berhiaskan berlian dari swis.

Dengan perasaan senang aku terus melaju sambil mendengarkan lagu kesukaan ku dari salah satu band Indonesia yang sangat fenomenal. Ketika sedang asik menikmati perjalanan ku,tiba-tiba sebuah mobil truk menabrak mobil yang aku kendarai dari arah belakang. Seketika mobil yang aku kendarai terpelanting ke depan sejauh 15meter dan jatuh dengan posisi terbalik dan hancur mengenaskan. Aku langsung tak sadarkan diri. Semua terasa gelap,sunyi,senyap yang sangat panjang.

Ketika sadar aku sudah berada di dalam rumah sakit. Seluruh tubuhku terasa amat sakit dan sulit untuk digerakan. Ke dua mataku ditutup perban. Aku nggak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan tubuhku. Yang bisa ku rasakan hanyalah rasa sakit yang teramat sangat. Ku coba tuk menggerakan badan ku tapi ku tak bisa.

Aku mencoba untuk menggerakan bibirku,meskipun itu sulit tapi aku tetap mencoba. Dengan suara terbata-bata,ku coba untuk memanggil mama ku.

"M.....Ma....."

"Ma......Ma........"

"Iya sayang,Mama di sini" Sahut mamaku.

Aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi padaku,karna aku tidak bisa melihat. Tapi aku bisa merasakan betapa bahagianya beliau mengetahui kesadaranku. Karna beliau berbicara sambil menangis dan air matanya menetes di pipiku.

"Apa yang sebenarnya terjadi padaku Ma,kenapa badanku sulit digerakan...?"

"Dan kenapa mataku ditutup perban Ma...?" Tanyaku panik.

"Kamu tidak apa-apa sayang,ini hanya kecelakaan kecil." Jawab Mamaku menenangkan.

"Kemarin kamu tidak sadarkan diri selama 3hari sayang,tapi dokter sudah menangani semuanya dengan baik. Jadi kamu tidak perlu khawatir." Lanjutnya.

"Ya tapi kalo nggak tidak apa-apa kenapa mataku ditutup perban Ma....?"

"Dokter bilang,matamu kemasukan serpihan kaca mobil yang pecah. Tapi sudah di angkat semua,jadi kamu tenang yach."

"Sekarang kamu istirahat saja,jangan mikirin yang macem-macem yach."

"Iya Ma"

* * * * *

Dua hari berikutnya,dengan ditemani Mama,dokter membuka perban dimataku. Jantungku berdegup kencang,hatiku berdesir tak karuan. Semua perasaan berkecamuk bagai badai tsunami yang menerjang daratan. Ada perasaan bahagia di sana,juga rasa penasaran yang begitu dahsyatnya. Apakah aku cacat atau masih seperti dulu.

"Apakah kamu sudah siap Nez...?" Tanya dokter mengejutkanku.

"I...iya dok,aku siap." Jawabku gugup.

"Kamu tenang saja,kamu tidak apa-apa kok. Meskipun mobil kamu mengalami rusak berat tapi kamu cuma lecet-lecet kecil saja. Cuma matamu yang sedikit mengkhawatirkan,soalnya matamu kemasukan pecahan kaca. Tapi kamu tenang saja,semuanya sudah diangkat dan dibersihkan."

"Terimakasih dok."

Perlahan dokter membuka perban yang menutup mataku dengan sangat hati-hati. Jantungku kembali berdegup kancang seperti mau keluar dari dadaku. Tapi aku berhasil menguasai diriku.

"Nah,sekarang buka matamu pelan-pelan."

"Baik dok."

Dengan sangat hati-hati aku mencoba membuka mataku. Dan betapa terkejutnya aku ketika aku tak bisa malihat apa-apa. Semuanya terlihat gelap. Aku tak bisa melihat lagi. Aku panik. Tapi aku berusaha tenang,mungkin ini hanya sementara saja dan sebentar lagi juga gelapnya akan hilang.

"Dok,kenapa aku tak bisa melihat. Semuanya gelap. Ma...Mama di mana. Kenapa aku nggak bisa ngeliat ma......?!?"

"Tenang sayang jangan panik begitu. Biar dokter yang menanganinya yah." Sahut Mamaku mencoba menenangkan.

"Iya,iya,tenang yah Nez. Coba saya liat dulu. Coba buka matamu. Sekarang apakah kamu sudah bisa melihat seberkas cahaya?" Tanya dokter sambil memeriksa dan terus menyorotkan senter ke mataku.

"Nggak dok,aku nggak bisa ngeliat apa-apa."

'Sebentar saya periksa lagi. Sekarang bagaimana?"

"Tetap nggak bisa dok. Dok,apakah aku buta?"

Dokter diam. Membisu. Mama juga diam. Suasana hening sejenak. Tapi aku terus bertana-tanya pada dokter. Aku tak kuasa menahan tangis. Tangisku pun pecah,emosiku meledak-ledak.

"Dokter,kenapa dokter diam? Jawab dok...! Apa aku buta dok...?!?" Teriakku pada dokter sambil menangis.

"Tenang sayang,tenang. Mama yakin kamu tidak apa-apa. Dokter,tolong katakan kepada kami apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang terjadi dengan mata Inez dok...?"

"Kalian tenang dulu. Baiklah aku akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi." Dokter menjelaskan.

"Ternyata pecahan kaca yang masuk ke mata Inez telah merusak retinanya. Sehingga matanya tidak berfungsi lagi. Satu-satunya cara agar inez bisa melihat lagi adalah kita harus mencari donor mata. Tapi untuk sekarang ini,itu sangat sulit di lakukan. Soalnya jarang sekali ada orang yang mau mendonorkan matanya. Meski orang itu sudah meninggal sekalipun. Tapi kita tidak boleh putus asa,kita harus tetap berusaha."

"Tidak......!!! Ini tidak mungkin terjadi. Dokter bohong kan dok. Katakan padaku kalau ini tidak benar. Mataku masih bisa disembuhkan kan dok...?"

"Dokter,tolong dokter carikan donor mata untuk Inez. Berapa pun biayanya akan saya bayar,yang penting Inez bisa melihat lagi."

"Baiklah akan saya usahakan. Tapi saya tidak bisa janji."

Aku tak sanggup menerima kenyataan ini. Hatiku hancur seketika,remuk redam tak karuan. Tangisku pun tak terbendug lagi,air mataku terus mengucur deras seakan tak mau berhenti. Jiwaku kacau,aku tak dapat berfikir jernih lagi. Rasa-rasanya ingin mati saja. Dunia ku seakan berhenti berputar.

"Yang sabar ya sayang,kamu pasti bisa melihat lagi. Mama yakin itu,kamu harus kuat."

Mama lalu memelukku,air matanya mengalir. Mengharu biru. Dia terus meyakinkan ku,menenangkan ku. Saat itu pun aku sadar bahwa begitu berharganya hidupku hingga Mama pun ingin melihatku tetap kuat,tegar dan tabah dalam menghadapi ini semua.

" Sekarang apa yang harus aku lakukan Ma. Aku sudah nggak bisa melihat lagi."

"Tenang sayang,kamu harus tegar. Mama janji,mulai sekarang Mama akan menjadi matamu,kakimu dan tanganmu. Mama akan selalu berada di sampingmu,setiap saat,setiap waktu."

"Ma...Kak Andre mana,kok dari tadi aku nggak denger suaranya?"

"Och yach,Kak Andre sudah berangkat ke Australia kemarin. Karna banyak kerjaan yang sudah menantinya. Lagipula dia juga harus mengurus skripsinya. Dia bilang,minta maaf karna nggak bisa dateng hari ini. Dia juga berdoa semoga kamu cepat sembuh."

"Kak Andre pasti bakal sedih banget ya Ma kalo dia tau aku sekarang buta."

"Sudah kamu jangan berfikir yang macam-macam dulu. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya agar kita cepat mendapatkan donor mata."

"Tapi sekarang hidupku sudah hancur Ma."

"Jangan bicara begitu sayang. Selama masih hidup,kita harus berani menatap masa depan. Dan perlu kamu ingat,kamu masih punya Kak Andre,Papa dan Mama yang akan selalu menyayangimu sayang."

* * * * *

Matahari pagi mulai menyinari wajah Jakarta. Semburat cahaya keperakan menciptakan kehangatan. Sehangat suara bising kendaraan yang hilir mudik untuk membawa si empunya memulai aktifitas. Begitu juga dengan cowok blasteran berwajah oriental yang turunan Indonesia-Cina itu. Dengan penuh semangat dan senyum yang mengembang di bibirnya sehingga terlihat legokan di pipinya,dia berjalan keluar rumah mendekati mobilnya. Dia lalu masuk ke dalam mobil dan sejurus kemudian dia sudah berada di tengah-tengah padatnya jalanan ibu kota yang macet seperti ular itu.

Ada sedikit rasa kecewa mampir ke wajahnya yang putih bersih itu. Ya,kecewa dengan negara ini. Kenapa setelah berkali-kali ganti presiden hingga gubernur tapi tetap saja Jakarta selalu dilanda macet bahkan banjir di musim hujan. Bahkan ini terjadi setiap hari terutama saat jam-jam sibuk. Sesekali dia melihat ke sekelilingnya. Mengamati fenomena yang terjadi meskipun sebenarnya dia sudah bosan dengan semua ini. Matanya menangkap beberapa pedagang asongan,meskipun terlihat lelah tapi ia tetap semangat menjajakan dagangannya. Ada juga pengamen dengan gitar usang dan suara sumbangnya menyanyikan lagu-lagu yang sedang hits saat ini,meskipun sebenarnya tidak enak didengar,banyak yang merasa terganggu dan merasa bising tapi dia tidak peduli. Yang terpenting bagi dia adalah bisa menerima beberapa receh saja dari uluran tangan-tangan malaikat. Dan ada juga beberapa pengemis yang meminta-minta dengan wajah memelas dan mengiba.

Hatinya merasa miris,ada rasa iba yang menyelinap di sana. Ia pun mengambil uang di dashboard mobilnya,lalu diberikannya kepada pengemis yang masih anak-anak yang usianya sekitar 7 tahun itu. "Kasihan anak ini,bukankah seusia dia harusnya berada di sekolah,bukannya di jalanan. Bergelut dengan panas dan debu. Hah...inilah hidup,kita nggak akan pernah tau skenario apa yang sedang Tuhan siapkan untuk kita." Pikirnya. Dia merasa bersyukur karna Tuhan memberikan nasib yang lebih baik dari pengamen dan peangemis yang ada di jalanan itu.

Setelah melakukan perjalanan panjang dan melelahkan,akhirnya cowok berwajah oriental itu tiba di kantornya. Dia bekerja di salah satu stasiun televisi swasta terkemuka di Jakarta sebagai tim kreatif dalam acara talkshow. Sejurus kemudian ia sudah berada di ruangannya untuk mengambil barang-barang yang dianggapnya penting lalu masuk ke studio tempat acara itu dilangsungkan untuk mengecek apakah semuanya sudah siap atau masih ada yang kurang.

"Gimana Wi,udah siap semuanya?" Tanyanya pada Dewi,teman satu timnya.

"Udah Zack,tinggal menunggu beberapa menit lagi acara akan segera dimulai." Jawabnya sedikit menjelaskan.

"OK,sip dech...!"

Ya,cowok itu namanya Zacky,temen-temennya pun biasa memanggil dia dengan nama itu. Usianya sekitar 25 tahun,rambutnya lurus,badannya tinggi dan proporsional. Sehingga temen-temen cewek sekantornya banyak yang suka padanya. Bahkan salah satu artis yang pernah menjadi bintang tamu diacaranya pun ada yang tergila-gila padanya. Tapi sepertinya Zacky belum menemukan cewek yang cocok untuk dijadikan pacar atau bahkan calon istrinya. Karna sampai sekarang dia masih belum punya pacar alias jomblo. Zacky memang sangat selektif dalam memilih pasangan,dia tidak mau sembarangan memilih cewek meskipun hanya untuk pacaran saja.

Setengah jam berlalu,acara pun selesai. Setelah membereskan semua peralatan,Zacky mengajak Dewi ke toko buku sekalian makan siang.

"Wi,setelah ini kamu ada acara nggak?"

"Enggak,emang kenapa Zack?"

"Begini,kalo kamu nggak ada acara,aku mau mengajak kamu ke toko buku. Karna ada beberapa buku yang mau aku beli,sekalian kita makan siang. Gimana,mau nggak?"

"OK,kebetulan aku nggak ada acara kok?"

"Ya udah,kalo gitu kita berangkat sekarang yach?"

"OK...!!!"

Tanpa berlama-lama lagi,mereka pun langsung meluncur ketempat yang mereka tuju.

* * * * *

Hari ini untuk kesekian kalinya setelah kecelakaan itu terjadi,aku pergi ke rumah sakit bersama Mama. Karna cuma Mama lah yang selama ini menjadi jendela duniaku. Seperti biasa,aku ke rumah sakit untuk memeriksakan mata sekalian mencari informasi,siapa tau aja ada orang yang bersedia dengan ikhlas mau mendonorkan matanya. Meskipun aku tau ini hanyalah sebuah kesia-siaan belaka,karna hingga detik ini pun aku belum mendapatkan hasilnya.

Duniaku seakan mengecil. Hingga untuk senyum pun aku tak bisa. Kecelakaan itu telah merenggut mimpiku. Mengubah cahaya hidupku menjadi penuh dengan kegelapan. Hingga tanpa ku sadari,bulir-bulir bening keluar dari ujung kelopak mataku. Membasahi hatiku yang selama ini kering oleh duka yang seakan tak mau lepas dari hidupku. Kering oleh penantian yang tiada pasti. Menanti seberkas cahaya yang akan menerangi kidupku yang selama ini penuh dengan kegelapan.

Di depan jendela kamar,aku berdiri menikmati mesranya belaian angin dipagi hari. Dalam sebuah perenungan akan duka yang aku alami,aku menulis sebuah puisi dalam hatiku untuk menghibur diriku sendiri.

Menanti
Tanpa lelah aku berdiri
Terus menanti
Apakah ini benar terjadi
Ataukah hanya sebuah mimpi?
Tapi aku tak 'kan berhenti
Tetap menanti

Aku yang kini sendiri
Tak ada yang mencari
Masih menanti
Seraya mencari makna diri
Untuk bisa berdiri
Meski ku tau pasti
Ini sulit ku penuhi

Hanya sunyi dan sepi
Setia menemaniku di sini
Menusup ke relung hati
Yang tanpa lelah terus menanti
Sesuatu yang tak pasti

Hening. Aku pergi
Berlari. Terus mencari
Bahagia diantara pedih peri
Tuk damaikan diri
Yang penuh dengan ironi dan elegi

Saat sedang asyik sendiri dalam lamunanku,Mama datang mengejutkanku. Seketika itu pula aku terbangun dan sadar dari lamunanku yang panjang nan sunyi.

"Inez...! Kok malah ngelamun,jadi nggak pergi ke rumah sakit?" Tanya Mama mengejutkanku.

Ya,namaku Inez. Lengkapnya Inez Sastra Erlangga,umurku baru 22 tahun. Sebenarnya aku masih kuliah,tapi karna kecelakaan itu,aku berhenti kuliah.

"Eh...jadi Ma...!"

"Ya udah,kita berangkat sekarang yach?"

"Baik Ma...!"

Sesampainya di rumah sakit,Mama membawaku ke ruangan dokter Rizwar,dokter yang selama ini merawatku. Selesai diperiksa,Mama bicara dengan dokter,sementara aku lebih memilih keluar ruangan dan duduk di ruang tenggu. Karna aku sudah tau pasti,jawaban dokter pasti masih sama seperti sebelumnya,belum menunjukan perkembangan yang baik dan belum ada donor mata untukku.

Saat aku mau duduk di kursi ruang tunggu,tiba-tiba aku ditabrak oleh seorang cowok. Aku terjatuh dan tongkatku terlempar beberapa meter dari tubuhku. Cowok itu lalu minta maaf,membantuku berdiri dan membantuku duduk di kursi. Kemudian dia mengambilkan tongkat yang terlempar agak jauh dariku dan memberikannya untukku.

"Maaf,maaf mbak, Aku tidak sengaja. Mbak tidak apa-apa?" Tanyanya sedikit panik,lalu ikut duduk di sampingku.

"Nggak,nggak apa-apa kok." Jawabku sedikit gugup dan takut.

"Apa ada yang sakit mbak? Sekali lagi aku minta maaf yach. Och yach,ini tongkatnya."

"Terimakasih,terimakasih atas semuanya."

"Seharusnya aku yang terimakasih sama mbak karna mbak nggak marah padaku."

"Ya nggak mungkin lah aku marah. Aku ini yang salah,sudah tau buta tapi keluyuran tanpa pendamping,udah gitu jalannya nggak hati-hati pula."

"Jangan bicara begitu mbak,di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Dan ini semua adalah takdir hidup yang harus kita jalani. Tak ada satu manusia pun yang mampu menentangnya. Och yach,nama mbak siapa? Namaku Zacky,umurku 25 tahun. Mbak ke sini sendirian atau sama siapa?"

"Namaku Inez,jadi panggil saja aku Inez. Aku ke sini sama Mama untuk mencari donor mata. Dan satu lagi,jangan panggil aku mbak yach,karna umurku masih di bawah mas. Kalo boleh tau,mas bekerja sebagai penyiar radio ya?"

"Jangan panggil mas,panggil saja Zacky,biar terlihat akrab aja. Bukan,aku bukan penyiar radio. Tapi aku bekerja di salah satu stasiun televisi swasta sebagai tim kreatif dalam acara talkshow. Emang tau dari mana kalo aku penyiar radio?"

"Eh...aku asal nebak aja. Soalnya suaramu bagus sich seperti penyiar radio. Kayaknya kamu lebih cocok bekerja di situ dech,he.....!" Ledekku sambil tertawa kecil.

"Ach...kamu bisa aja. Nggak ada bakat Nez. Maaf kalo pertanyaanku yang satu ini agak sensitif,kalo boleh tau kamu buta karna apa? Sekali lagi aku minta maaf. Kalo kamu nggak mau jawab juga nggak apa-apa kok."

"Nggak apa-apa kok. Dulu,dalam perjalanan pulang ke rumah setelah membeli kado unruk kakakku,mobil yang aku kendarai di tabrak truk dari belakang. Sore itu hujan deras dan angin kencang,kadi mungkin mobilku tidak terlihat dengan jelas oleh sopir truk itu. Hingga kecelakaan itu pun tak terelakan lagi sampai merenggut mataku." Ceritaku sambil menitikan air mata."

"Maaf yach Nez kalo pertanyaan ku jadi membuatmu sedih dan teringat kembali atas peristwa pahit itu."

"Kamu nggak perlu minta maaf,justru aku seneng karna ada temen untuk berbagi. Karna selama ini aku nggak pernah cerita kepada siapa pun dan cenderung menutup diri dari orang lain. Och yach,kamu sendiri ngapain ke rumah sakit?"

"A...aku...aku lagi jenguk temen ku yang lagi sakit. Iya...iya,temen sekantorku ada yang sakit." Jawabnya gugup,seperti ada yang disembunyikan. Tapi aku tidak tau apa yang ia sembunyikan dariku.

"Kenapa kamu gugup...?" Tanyaku penasaran.

"Nggak,nggak apa-apa kok."

Saat sedang asik ngobrol tiba-tiba handphone nya berdering dan diangkatnya telpon itu. Aku tidak tau dari siapa,tapi dia menyebut-nyebut nama cewek. Entah kenapa ada rasa cemburu yang merauk ke relung hatiku. Tapi aku segera membuang jauh-jauh perasaan itu. Karna aku sadar,aku wanita cacat. Dan wanita cacat sepertiku tidak pantas mendampingi laki-laki sempurna seperti dia.

"Yang telpon tadi itu temen satu timku,namanya Dewi. Katanya aku harus segera ke kantor,karna ada hal penting yang harus aku kerjakan. Och yach,kamu tinggal di mana? Kapan-kapan bolehkan aku maen ke rumahmu?" Tanyanya mengejutkanku.

"Och...begitu? Kalo mau maen,maen aja. Nggak apa-apa kok. Justru aku seneng dapat temen baru. Aku tinggal di Pondok Indah. Tapi apa kamu nggak malu punya temen buta sepertiku?"

"Kenapa harus malu,toh ini semua bukan keinginan kamu kan? Semua peristiwa ini sudah ytertulis rapi dan sudah menjadi kehendaknya. Jadi nggak perlu disesali. Kita manusia,hanya bisa menjalaninya. Bahkan daun gugur dari ranting pun sudah ada ketentuannya. Jadi nggak ada alasan bagiku untuk malu. Ya udah,aku harus segera balik ke kantor. Jaga diri baik-baik yach. Sampai jumpa lagi esok,lusa dan seterusnya. OK...? Dach....!!!"

"OK......!!! Dach.....!!! Terimakasih atas semuanya yach...........!!!"

Sepulangnya dari rumah sakit aku langsung masuk ke kamar. Entah kenapa aku masih teringat dengan pertemuanku sama Zacky di rumah sakit tadi. Aku tidak mengerti apa maksud kata-kata terakhirnya tadi. Meskipun aku baru pertama kali bertemu dengannya tapi seakan sudah lama mengenalnya. Hatiku berdebar-debar dan jantungku berdegup kencang saat aku berdekatan dengannya. Aku begitu terpesona dengan suaranya yang indah. Dia cowok yang baik,sopan,dan obrolannya pun nyambung. Andaikan aku bisa melihatnya,pasti wajahnya sangat tampan dan menarik.

Sementara di kamar yang lain,Zacky duduk tertunduk lesu. Matanya basah. Dia masih tidak percaya dengan tes yang diberikan dokter yang menyatakan bahwa dia positif mengidap penyakit leokimia. Hatinya hancur berkeping-keping. Matanya terus menitikan air mata kesedihan yang mendalam.

"Ini tidak mungkin...! Tidak mungkin...!!! Kenapa harus aku,kenapa harus aku yang mengalami semua ini...? Kenapa...?!? Aku masih muda,masih ada banyak hal yang harus aku lakukan. Tapi kenapa aku menderita penyakit separah ini...? Kenapa..........?!?" Teriaknya dengan tangis yang meledak-ledak sambil sambil membanting semua barang-barang yang ada di depan matanya. Lalu dia menyasdarkan badannya di tembok dan terduduk lemas.

Kini tak ada lagi yang bisa lakukannya kecuali memohon belas kasih-Nya. Dan dengan segenap jiwa,ia pasrah dalam genggaman kekuasaan-Nya.

* * * * *

Dan benar saja,satu bulan berselang,Zacky datang menemuiku. Saat itu aku sedang bersiap-siap mau pergi ke rumah sakit untuk mencari informasi donor mata.

"Assalamu'alaikum."

"Wallaikumsalam." Jawab Mama sambil membukakan pintu.

"Permisi tante. Inez nya ada tante?" Tanya Zacky pada Mama.

"Ada. Tapi maaf anda siapa yach?" Sahut mama balas bertanya heran.

"Och yach,perkenalkan tante,nama saya Zacky. Saya kenal dengan Inez sebulan yang lalu di rumah sakit. Waktu itu Inez ngasih alamat rumah ini pada saya tante." Jawab Zacky sedikit menjelaskan sambil menjabat tangan mama.

"Och...begitu? Eh...mari silahkan masuk,silahkan duduk nak Zacky. Sebentar ya tante panggilkan Inez dulu."

"Terimakasih tante."

Sejurus kemudian aku keluar bersama mama menemui Zacky. Dengan sabar dan hati-hati mama menuntunku dan mendudukan ku di sofa yang taak jauh dari Zacky. Sementara mama duduk di sampingku.

"Pagi Nez,apa kabar?" Sapa Zacky padaku.

"Pagi,kabarku baik. Kamu sendiri gimana? Aku kira kamu nggak akan dateng karna malu mengenal gadis buta sepertiku." Jawabku.

"Alhamdulillah kabarku baik. Ah...kamu jangan bicara begitu. Sebulan belakangan ini,aku sibuk banget. Dan kebetulan hari ini aku ada waktu luang jadi aku sempatkan untuk mampir."

"Kalo boleh tau nak acky tinggal di mana dan kerja apa?" Tanya mama yang dari tadi diam.

"Rumah saya di Pondok Indah tante. Saya bekerja di salah satu stasiun televisi swasta sebagai tim kreatif dalam acara talkshow."

"Wah...sering ketemu artis dong?"

"Mama...apa-apaan sich,malu-maluin aja." Bisikku pada mama sambil mencubit pinggangnya.

"Yach...begitulah tante." Jawab Zacky sedikit malu-malu sambil tersenyum yang sepertinya dia mendengar apa yang aku katakan pada mama.

"Sebentar yah,saya tinggal ke belakang dulu." Sahut mama seraya meninggalkan kami berdua.

Kami pun saling diam. Tak ada yang berkata-kata. Entah kenapa saat itu aku sedikit grogi. Hatiku berdebar-debar,jantungku pun berdetak tak beraturan. Apalagi saat mendengar suaranya yang merdu nan indah,perasaanku kian tak menentu. Tapi aku berhasil menata hatiku hingga rasa grogi yang bergelayut dalam diriku tak nampak olehnya.

Tak lama berselang,mama datang membawa minuman dan kue untuk Zacky dan mempersilahkannya untuk minum.

"Silahkan diminum nak Zacky,dicicipi juga kuenya." Ucap mama memecah keheningan yang sejenak tercipta.

"Terimakasih tante,jadi ngerepotin."

Ach.....tidak apa-apa. Bukankah sudah menjadi kewajiban kita sebagai tuan rumah untuk memuliakan tamu." Jawab mama kembali duduk di sampingku.

Zacky hanya tersenyum malu.Aku pun hanya tersenyum. Mama memang suka begitu,kalau bicara suka ceplas-ceplos dan suka membuat orang mati kutu.

"Apa kalian mau pergi? Saya liat kalian sudah rapih sekali." Tanya Zacky mengalihkan pembicaraan.

"Iya,kami mau pergi ke rumah sakit. Seperti biasa,kami mau mencari informadi donor mata." Jawab mama.

"Boleh saya yang mengantar tante?" Tanya Zacky menawarkan diri.

"Emangnya nak Zacky nggak kerja hari ini?"

"Kebetulan lagi libur tante."

"Begini nak Zacky,sebenarnya tante nggak melarang siapa pun yang ingin dekat dangan Inez. Tapi masalahnya sekarang adalah dengan keadaan Inez yang seperti ini,tante jadi khawatir."

"Saya mengerti tante. Jika ini terjadi pada keluarga saya,saya pun akan melakukan hal yang sama seperti apa yang tante lakukan pada Inez. Dan jujur saja tante,sejak pertama kali saya bertemu Inez di rumah sakit dulu,saya sudah tertarik pada Inez. Dan saya ingin mengenal Inez lebih jauh lagi tante. Saya nggak peduli dengan keadaan Inez sekarang tante,saya juga nggak peduli apa kata orang nanti. Karna saya benar-benar tulus mencintai Inez apa adanya. Saya janji tante,saya nggak akan mengecewakan atau pun menyakiti Inez tante."

"Baiklah,tante percaya pada nak Zacky. Tapi ingat,jika terjadi sesuatu dengan Inez,tante adalah orang pertama yang akan membuat perhitungan padamu."

"Baik tante,saya janji. Saya akan menjaga Inez dengan sebaik mungkin. Kalo begitu mari kita berangkat sekarang Nez." Lanjut Zacky,matanya menatap ke wajah ku lekat-lekat.

Saat itu perasaanku kian tak menentu saja. Ada rasa bahagia sekaligus khawatir yang mendera di sana. Bahagia karna aku bisa berdekatan dengan orang yang memang aku cintai. Meskipun sebenarnya aku tidak tau wajah dan kepribadiannya. Khawatir karena aku takut dia akan berbuat yang macem-macem padaku. Aku juga tidak tau alasan mama mengijinkan Zacky mengantarku ke rumah sakit. Padahal sejak musibah itu menimpaku,mama tidak pernah percaya pada orang lain. Tapi aku berusaha menenangkan diri,karna aku yakin mama tidak mungkin salah mengambil keputusan.

Sepulangnya dari rumah sakit,Zacky membawaku ke pantai. Menikmati panorama senja yang begitu indahnya hingga siapa pun yang melihatnya pasti akan tersihir olehnya. Kami menapaki jalanan yang terbuat dari kayu yang ditata dengan sangat rapihnya hingga hampir ke tengah laut. Kami berhenti di ujung,berdiri di sana menikmati suasana yang begitu tenang dan damai. Sore itu,suasananya memang sangat mendukung sekali. Meskipun aku tidak bisa melihat tapi aku bisa merasakan keindahannya.

"Bagaimana,apa kamu suka berada di sini?" Tanya Zacky memecah keheningan yang sedari tadi tercipta sambil meletakan tangannya di pundakku.

Sepanjang perjalanan kami memang banyak diam,karna aku masih malu dan bingung. Bingung harus ngobrolin apa. Meskipun sebenarnya aku ingin sekali menanyakan banyak hal tentang dirinya.

"I...iya,aku senang." Jawabku sedikit kaget dan gugup.

"Sini,aku akan menjelaskan panorama senja ini untukmu." Sahutnya sambil mendekatkan tubuhku ke sampingnya hingga badan kami pun saling menempel.

"Di sebelah barat sana,sebentar lagi Sang Raja Kelana hendak beranjak ke peraduannya yang indah. Aurora menyelimuti penuh kehangatan. Semilirnya angin menyejukan hatinya yang tiada lelah menerangi bumi. Sepanjang hari,sepanjang waktu demi kelangsungan hidup semua makhluk di muka bumi ini. Burung-burung berterbangan ke sana ke mari dengan sangat riangnya. Suatu hari nanti....." Tiba-tiba Zacky menghentikan bicaranya. Tanpa terasa keluar darah dari kedua lubang hidungnya. Ia buru-buru mengambil saputangan dari saku belakang celana jinsnya. Wajah tampan yang semula ceria itu seketika berubah menjadi pucat pasi. Lalu dilapnya darah itu hingga bersih. Meski ia tau aku tidak bisa melihat tapi ia tetap ingin terlihat sempurna di depanku.

"Zack,kok berhenti? Kenapa nggak dilanjutin?" Tanyaku penasaran.

"Eh...enggak,nggak apa-apa." Jawabnya gugup. "Aku cuma terpesona dengan wajahmu yang cantik jelita." Lanjutnya menutupi apa yang sebenarnya terjadi.

"Ach...kamu bisa aja. Dasar laki-laki,sukanya ngegombal doang." Sahutku tersipu malu.

"Loch...kok gombal sich...? Beneran....!!! Sejak pertama kali ketemu kamu,aku sudah jatuh hati padamu. Hatiku sudah terpaut oleh kebaikan hatimu. Aku nggak peduli apapun keadaanmu. Suatu hari nanti jika kamu sudah bisa melihat lagi,aku ingin ke sini dan menikmati pemandangan ini lagi bersamamu. Kamu mau kan...?!?"

"Terus terang,aku suka sekali dengan caramu memaparkan pemandangan yang indah ini lewat kata-kata. Meskipun kamu bukan sastrawan besar tapi hasilnya sangat memuaskan dan aku bisa merasakan itu meskipun aku nggak bisa ngeliat."

"Jadi.....?!?"

"Jadi apa......?!?"

"Kamu mau nggak suatu hari nanti ke sini lagi bersama ku?"

"OK,aku mau. Eit...tapi kamu harus janji. Kamu ngak boleh pindah kelain hati. Tapi bagaimana kalo aku ngak bisa ngeliat lagi,apa kamu mau tetap bersamaku?"

"Kita harus optimis. Meskipun kamu nggak bis ngeliat lagi,aku nggak peduli. Aku akan tetap bersamamu karna aku mau hidup seribu tahun lagi bersamamu hingga ajal menjemput. Aku ingin tau,kira-kira seperti apa yach jika kamu sudah tua. Pasti jelek banget. Rambut memutihdan terjadi kerutan di mana-mana. Ha.....!" Ledeknya.

"Ich......jahat......!!!" Sahutku sambil memukul-mukul dadanya. Dia cuma tertwa-tawa,seakan senang telah berhasil menggodaku. " Kalo kamu sudah tua nanti,pasti kepalamu botak. Jalannya bungkuk bawa tongkat,giginya ompong,pipinya kempot dan bisanya cuma berdiam diri doang di kursi gayang. Ha......!!!" Lanjutku balas menggodanya.

Zacky lalu memelukku erat-erat seakan tak meu kehilangan diriku. Kemudian dia mencium keningku dengan penuh cinta dan mesra. Aku pun membalas pelukannya,ku rasakan kehangatan cinta di sana. Inilah kali pertama ku rasakan cinta seorang lelaki sejak kecelakaan itu terjadi. Karna selama ini aku menutup dari dari dunia luar. Ingin rasanya aku tetap berada di sini merasakan indahnya cinta ini karna aku ngak mau cinta ini berakhir tragis dan menyedihkan.

Sejak saat itu Zacky sering datang menemuiku dan mengajakku pergi ke tempat-tempat yang indah dan romantis. Bukan cuma itu,dia juga sering mengirimiku surat cinta. Tiap kali surat itu datang,mama selalu membacakannya untukku. Kata-katanya sangat indah dan romantis penuh cinta menggetarkan hati. Aku sangat terharu biru bahagia mendengarnya,hingga cintaku pun bertambah besar padanya. Ingin rasanya aku membalas surat itu,tapi sayang,disurat itu tidak tertulis alamat si pengirimnya.

Bukan hanya kata-kata cinta saja yang tertulis dalam surat itu,tapi juga kata-kata penyemangat jiwa agar aku tetap semangat dalam menjalani hidup ini meski pun keadaanku seperti ini. Agar aku tetap bertahan hidup untuk memenuhi janji kita berdua untuk bersama lagi manikmati keindahan pantai sama seperti yang pernah kita lakukan dulu. Agar aku berani menatap masa depan walau jalan yang harus ku tempuh penuh dengan kerikil tajam den berliku.

* * * * *

Waktu terus berlalu,detik berganti hari,hari berganti bulan,bulan berganti tahun dan tahun pun berganti cerita dan peristiwa. Banyak sudah peristiwa yang ku alami setahun belakangan ini. Tapi aku belum juga bisa melihat.

Malam ini hujan kembali datang menyapaku. Gemuruh air turun dari langit. Gelegar petir menyambar hingar bingar memecah keheningan malam. Seakan menambah derita hatiku yang selama ini selalu sepi dan dingin. Akankah ini berakhir seiring dengan redanya hujan malam ini? Entahlah,hanya waktu yang mampu menjawabnya.

Tiba-tiba aku teringat dengan Zacky. Pria yang selama ini mengisi hari-hariku yang kelam manjadi terang benderang penuh keceriaan. Sudah tiga bulan ini dia menghilang dariku. Dia tidak pernah datang menemuiku lagi. Ada rasa rindu yang mendalam menyusup kerelung hatiku yang paling dalam. Rindu yang menyiksa jiwaku yang rapuh ini. Terakhir,sebulan yang lalu dia mengirimiku kado yan berisi sebuah kalung setengah hati dan sepucuk surat yang berbunyi:

Yang ku cintai
Di peraduannya yang indah

Tidak perlu lari ke hutan lalu belok ke pantai
Untuk mencariku melepas rindu
Jika kau rindu padaku,pandangi langit malam ini
Setiap bintang yang kau lihat
Mewakili "Aku mencintaimu"
Setiap angin yang berhembus
Mewakili "Aku merindukanmu"
Setiap purnama bersinar
Berarti aku sedang memelukmu
Setiap hujan turun
Berarti aku sedang kesepian
Jika masih ada air mata
Biar angin yang menghapusnya
Sebagai pengganti tanganku yang jauh

Berjanjilah untuk tetap hidup. Aku ingin melihatmu bisa melihat lagi. Agar kau percaya betapa aku mencintaimu. Agar kau bisa melihat dunia yang selama ini menjadi saksi betapa aku menyayangimu. Dan saat kita bertemu nanti,aku ingin kita menyatukan kalung setengah hati ini menjadi satu hati. Begitu juga dengan hati kita,satukan hatimu dengan hatiku. Satukan hidupmu dengan hidupku. Karna aku tak sanggup melapasmu. Aku ingin hidup seribu tahun lagi bersamamu. Dan demi cintaku padamu,kan kuserahkan hidupku untukmu. Demi cintaku padamu,kan ku serhkan duniaku untukmu. Dan demi cintaku padamu,kan ku arungi samudra hidup ini tuk hadirkan senyum di bibirmu yang indah merekah. Bawalah slalu cintaku dalam hatimu dan jangan pernah kau lepaskan.

Yang selalu mencintaimu
Zacky

Gerimis kembali menghujam jantungku hingga aku tak kuasa menahan tangis. Ku genggam erat-erat kalung setengah hati yang bergelayut di leherku. "Zacky,di manakah kamu sekarang? Kenapa kamu tidak pernah datang menemuiku lagi? Apakah kamu di sana baik-baik saja? Apakah kamu di sana sedang kesepian seperti dalam puisi yang kau tulis untukku?" Bisikku dalam hati.

Mentari pagi menyingsing di ufuk timur. Membawa mimpi dan harapan baru bagi manusia-manusia di bumi. Mimpi yang selama ini mungkin belum pernah terwujud dan berharap menjadi kenyataan. Begitu juga dengan diriku,harapan untuk bisa melihat lagi tak kan pernah ku enyahkan dari benakku yang selama ini sejajar dengan bintang-bintang di langit sana. Meski pun jauh tapi tak kan pernah pupus dari benakku.

Tak seperti biasanya,pagi ini perasaanku tidak enak. Seperti telah terjadi sesuatu,tapi entah apa itu. Hatiku berdebar-debar,jantungku berdetak tak beraturan,darahku pun seperti berhenti mengalir. Aku kembali teringat Zacky. Entah kenapa,pikiranku mengarah padanya. Tapi aku mencoba tenang,menata hatiku. Dan aku hanya bisa berdoa. Semoga dia baik-baik saja di sana.

"Nez,Inez....!!!" Teriak mama memanggil-manggil namaku sambil berlari-lari ke kamarku. Sepertinya ada kabar gembira yang ingin mama sampaikan padaku.

"Ada apa Ma,sampai lari-lari gitu? Sepertinya Mama lagi seneng banget?" Tanyaku penasaran.

"Iya,Mama memang lagi seneng banget. Bahkan amat sangat senang."

"Iya tapi apa yang membuat Mama senang? Jangan bikin aku tambah penasaran ah...!" Desakku.

"Kalo kamu mendengarnya pasti kamu juga akan senang sekali. Dengarkan Mama,baru saja Dokter Rizwar telphon Mama. Katanya ada donor mata untukmu. Dan kamu harus segera operasi cangkoko agar retinanya tidak rusak." Jawab mama dengan penuh semangat dan bahagia.

"Och benarkah itu Ma......?!? Ini bukan mimpi kan Ma? Berarti aku akan bisa melihat lagiMa? Tapi operasi cangkoko itu apa sich Ma?"

"Iya sayang,ii benar. Ini bukan mimpi,kamu akan bisa melihat lagi. Operasi cangkoko itu adalah penanaman mata sang pendonor ke lubang matamu. Dan kita harus segera berangkat ke rumah sakit sekarang karna kamu harus menjalani beberapa pemeriksaan sebelum operasi dilakukan. Dan hasilnya nanti yang akan memutuskan apakah kamu layak operasi atau tidak. Mudah-mudahan mata itu cocok untukmu agar operasi itu bisa dilakukan secepatnya."

"Baik Ma. Ayo kita berangkat sekarang Ma." Ajakku penuh bahagia.

* * * * *

Keesokan harinya,setelh menjalani beberapa pemeriksaan lebih lanjut,operasi cangkoko pun dilakukan. Perasaanku pun campur aduk tak karuan. Ada rasa bahagia,berdebar-debar,takut,semuanya berkecamuk kian tak menentu. Aku terus berusaha tenang,karna aku ingin semuanya berjalan lancar. Tapi entah mengapa,sebagian dari diriku ada perasaan tidak enak yang tidak jelas juntrungannya. Aku selalu kepikiran Zacky. Entah mengapa,aku merasa telah terjadi sesuatu padanya. Aku mencoba menghapus bayangan itu tapi sulit ku lakukan.

Saat terbangun aku sudah berada di ruang perawatan pasien. Mataku ditutup perban. Aku jadi teringat kembali dengan peristiwa yang telah merenggut mataku itu. Saat itu,mataku juga ditutup perban,sama persis dengan yang terjadi sekatrang. Cuma bedanya,sekarang aku operasi mata untuk bisa melihat lagi.

Tiga hari telah berlalu,dan sekarang saatnya perban yang melilit mataku dilepas. Aku makin tak sabar saja. Rasa-rasanya ingin ku buka sendiri saja perban ini. Tapi aku mencoba tenang. Ku tarik nafas panjang agar rasa berdebar-debar yang bergelayut di jantungku segera menghilang. Sejurus kemudian dokter datang bersama papa dan mama ku.

"Apa kamu sudah siap Nez?" Tanya dokter mengejutkan ku.

"Sudah Dok." Jawabku sedikit gugup.

"Baiklah,sekarang aku akan mulai buka perbannya." Sahut dokter. Lalu dokter mulai membuka perban yang melilit di kepalaku dengan sangat hati-hati. "Nah,sekarang buka matamu pelan-pelan." Pinta dokter padaku.

"Baik Dok." Jawabku sambil membuka mataku pelan-pelan seperti yang diperintahkan dokter. Awalnya penglihatan ku gelap,tapi lama-lama aku sudah bisa melihat seberkas cahaya terang meski sedikit berbayang. Tapi akhirnya aku bisa melihat dengan jelas. Aku sangat bahagia sekali,hingga tanpa terasa bulir-bulir bening mengalir dari pojok mataku.

"Gimana,apa kamu bisa melihat?" Tanya dokter menyadarkan lamunanku.

"Gimana Nez,kok malah bengong sich? Apa kamu sudah bisa melihat?" Tanya mama yang berdiri di sebelahku yang sedari tadi terdiam seribu bahasa.

"Mama,Mama,ini benar Mama?" Tanyaku sedikit terkejut bahagia sambil menengok kearah mama. Aku lalu memeluknya sambil menangis tersedu-sedu. "Akhirnya aku bisa melihat lagi Ma...." Ucapku pada mama.

"Iya sayang,Mama ikut bahagia." Sahut mama sambil menangis.

"Papa......!" Panggilku pada papa. Aku lalu memeluknya dengan terus menangis.

"Sayang,selamat yach sayang. Akhirnya kamu bisa melihat lagi." Ucap papa yang juga ikut menangis. Hingga dokter pun ikut menangis karna saat ku arahkan pandanganku padanya,dia sedang menghapus air matanya.

Keharuan pun tercipta di ruangan itu. Mama dan papa memelukku bersamaan sambil terus menangis bahagia. Perasaan ku saat itu pun terasa sangat bahagia. Tapi,lagi-lagi,masih ada yang mengganjal di hatiku. Aku kembali teringat Zacky. Kenapa disaat-saat paling membahagiakan dalam hidupku dia tidak datang menemuiku.

"Och yach Ma,apa sudah ada kabar dari Zacky?" Tanyaku pada mama.

"Tidak sayang,hingga saat ini dia belum ada kabarnya." Jawab mama.

"Kira-kira dia ke mana yach Ma?" Tanyaku lagi pada mama dengan perasaan kecewa. Tubuhku terasa lemas tak berdaya,ingin sekali rasanya aku berlari keluar mencarinya.

"Sudahlah sayang jangan pikirkan hal itu dulu. Yang penting sekarang kamu sudah bisa melihat lagi dan kamu juga harus jaga kesehatan biar kesehatanmu segera pulih kembali." Sahut papa sedikit menasehati.

"Tadi pagi Kak Andre telphon,katanya dia dalam waktu dekat ini akan segera pulang. Dia juga berdoa semoga hasil operasinya tidak menecewakan dan kamu bisa melihat lagi." Sahut mama mengalihkan pembicaraan.

"Och yach......? Kapan......?!?" Tanyaku girang.

"Tepatnya kapan,Mama tidak tau. Tapi dia bilang dalam waktu dekat ini."

"Dokter,kalo boleh tau,siapakah orang yang sudah baik hati yang mau menyumbangkan matanya untukku?" Tanyaku pada dokter.

"Maaf,saya tidak bisa kasih tau karna sang penyumbang tidak mau identitasnya diketahui oleh siapa pun. Dan ini sudah menjadi kesepakatan antara rumah sakit dengan pihak keluarganya." Jawab dokter.

"Siapa pun orangnya,kita harus berterimakasih padanya. Dan yang paling penting kamu sudah bisa melihat lagi sayang." Sahut papa.

"Baiklah,kalau begitu saya mohon diri dulu." Sahut dokter mohon diri.

"Terimakasih Dok." Balas papa.

"Sama-sama. Ini sudah menjadi tugas kami. Mari....!"

"Mari." Balas papa dan mama bersamaan.

* * * * *

Dibawah temaram sinar rembulan dan lampu-lampu penghias taman,aku duduk sendiri di kursi taman belakang rumah. Bintang-bintang bertaburan di atas sana,menemani bulan yang sendiri. Sama seperti diriku yang sedang sendiri dan kesepian karna ditinggal seseorang yang selama ini bersemayam di hatiku. Semilirnya angin malam berkali-kali membelai wajahku. Nyanyian jangkrik menjadi musik penghiburku malam ini. Gemericik air mancur yang mengaliar yang berada di sebelah kanan ku mencoba menyejukan hatiku yang kering. Aku terus teringat Zacky. Entah ke mana aku harus mencarinya karna selama ini surat-surat yang dia kirimkan untukku tak pernah tertulis alamat rumahnya.

Pagi harinya saat sedang asyik membaca majalah di kamar,terdengar suara bel berbunyi. Saat itu yang ada dipikiranku adalah Zacky. Tanpa menunggu lama lagi,aku langsung berlari menuju pintu ruang tamu dengan secercah harapan. Harapan bahwa yang ada dibalik pintu adalah Zacky.

"Taraaaaaaaang........!!! Surprise..............!!!" Teriak orang yang ada dibalik pintu ketika tau pintu sudah di buka.

"Kak Andre........!!! Ya ampyun.........!!! Kok nggak bilang-bilang sich kalo mau pulang? Ngagetin orang aja......!!!" Sahutku sambil memeluk nya. Ya, ternyata yang dateng adalah kakak ku yang selama ini kuliah di Australia. Ada sedikit rasa kecewa yang menyelinap di hatiku. Tapi aku mencoba menutupinya dengan tetap tersenyum.

"Duch........segitunya.......!!! Kakaknya pulang bukannya senang malah sewot. Kamu pasti lagi nungguin seseorang yach?" Tanya kak andre menggodaku.

"Ich.........enggak. Beneran enggak. Ich.......Kak Andre ini,udah jauh-jauh pergi ke Australia masih aja nggak berubah. Masih suka ngeledekin aku." Sahutku manja sambil nyubitin pinggangnya.

"Aduh........sakit.........!!! Ha.......!!! Abisnya segitunya banget. Ya kalo beneran juga nggak apa-apa. Berarti adikku yang jelek dan manja ini udah laku. Ha........!!!" Ledeknya lagi sambil ketawa.

"Dagangan...........kali,laku...........!!! Ha............!!!"

"Mata nggak bisa bohong loch......!!! Ha.........!!! Och yach,ngomong-ngomong soal mata,mata mu sekarang gimana. Apa masih ada masalah?" Tanyanya sambil meletakan ke dua tangannya di ke dua pipi ku dan dipandanginya wajahku lekat-lekat.

"Alhamdulillah,udah enggak. Sekarang aku udah bisa melihat dengan baik dan udah bisa ngeliat dengan jelas kakak ku yang jelek ini. Tunggu dulu,jam ini masih ada? Kok bisa sama Kakak?" Tanyaku ketika melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam tangan yang dulu aku beli untuk nya sebagai kado ulangtahun.

"Ow,ow,ow............!!! Sekarang kamu udah bisa ngeledekin Kakak yach....? Iya,jadi dulu pas kecelakaan itu terjadi,jam tangan ini masih utuh. Ya udah Kakak ambil aja. Thanks yach.....!!!"

"Ya iyalah.........masa ya iyadunk. Ya pasti kuliah,masa kulidunk. Ha...........!!! Ach......udah ach,yuk masuk."

"Och..........kirain Kakakmu yang satu ini mau dibiarin gitu aja berdiri diluar."

"Ya nggak lah.........!!! Emangnya adikmu yang cantik ini sejahat itu apa?" Jawabku sambil menarik tangannya masuk ke dalam rumah.

"Kirain.........?!?" Sahutnya sambil mengikutiku dari belakang.

Begitu sampai di dalam rumah,aku,Kak Andre dan Mama,berbincang-bincang melepas rindu di ruang tengah. Lalu aku menceritakan semua yang trjadi antara aku dan Zacky selama setahun terakhir ini pada Kak Andre. Dengan tangis penuh haru,aku menceritakannya secara jelas. Bahkan aku menunjukan surat-surat dari Zacky. Dengan harapan,Kak Andre bisa membantuku menemukan Zacky.

"Disurat-surat ini tidak tertulis alamat si pengirimnya. Lalu bagaimana kita mencarinya?" Tanya Kak Andre.

"Mungkin kalian bisa memulai mencarinya dari stasiun televisi di mana Zacky bekerja." Jawab mama memberi ide.

"Och yach,waktu itu Zacky pernah enyebut-nyebut nama Dewi,temen satu timnya. Zacky kan bekerja sebagai tim kreatif acara talkshow di stasiun televisi itu. Bagaimana kalo kita tanya sama dia aja? Dia pasti tau di mana Zacky sekarang." Sahutku.

"Ide bagus tuch. Ya udah,kalo gitu lusa aja kita datengin dia dan tanya sama dia. Karna Kakak sekarang masih capek,habis melakukan perjalanan jauh. Jadi,sekarang kamu pijitin Kakak yach." Pintanya sambil meletakan kakinya di atas pahaku.

"Ich........ogah layaw.............!!! Tuh kan Ma,Kakak tuh nggak berubah-berubah. Masih aja kayak dulu,suka nyuruh-nyuruh dan ngeledek-ngeledekin aku." Sahutku mengadu pada mama.

"Ya udah lah Nez,cuma mijitin ini. Kakak mu kan lagi capek,jadi nggak ada salahnya kamu pijitin dia. Apalagi kan kalian udah setahun lebih nggak ketemu,biar keliatan akur." Bela mama sambil tersenyum.

"Ya udah kalo kamu nggak mau,Kakak juga nggak mau bantu kamu." Desak kak andre.

"Iya,iya aku pijitin. Puas.......?!? Coba ada Papa,dia pasti belain aku." Gerutu ku. Meski pun kak andre suka nyuruh-nyuruh sembarangan dan suka ngejailin aku,tapi dia kakak yang baik. Sejak kecil,dia yang ngelindungi aku dari kenakalan dan kejailan anak-anak tetangga dan teman-teman di sekolah. Karna kami memang selalu satu sekolah,cuma pas kuliah aja kami beda universitas. Bahkan kak andre nggak segan-segan memukul atau berkelahi dengan anak-anak yang mencoba nggangguin aku.

"Och yach,gimana kalo ntar pas Papa pulang kerja,kita bikin kejutan buat Papa. Papa kan belum tau kalo aku pulang hari ini?" Ajak kak andre bukun kejutan buat papa.

"OK..............!!!" Jawabku singkat. Mama cuma mengangguk pertanda setuju sambil tersenyum.

Tepat dihari yang telah ditentukan,aku dan kak andre pergu ke stasiun televisi tempat di mana Zacky bekerja. Sesampainya di sana,aku dan kak andre langsung menemui resepsionis dan menanyakan keberadaan orang yang kami cari.

"Permisi Mbak. Saya mau tanya,si sini ada nggak yang nama nya Dewi? Dia bekerja di bagian tim kreatif acara talkshow." Tanya kak andre pada salah satu resepsionis.

"Sebentar ya Mas saya cek dulu." Jawab resepsionis itu. Lalu dia mengangkat gagang telpon dan memencet nomor yang dituju. Beberapa saat dia berbicara dengan orang yang ada diujung telpon. Setelah selsai bicara resepsionis itu menyuruh kami untuk menunggu.

"Maaf Mas,silahkan tunggu sebentar ya. Sebentar lagi orangnya akan ke sini." Pinta resepsionis itu kepada kami.

"Terimakasih Mbak." Sahut kak andre.

"Sama-sama." Balas resepsionis itu ramah.

Kami lalu duduk di kursi tamu. Tidak lama kemudian munculah seorang wanita cantik. Rambutnya panjang,lurus dan hitam legam,badannya tidak terlalu pendek dan memakai pakaian seragam stasiun tempat dia bekerja. Kami lalu memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami.

"Selamat siang Mbak. Benarkah anda yang namanya Dewi?" Tanya kak andre pada wanita itu.

"Iya benar. Ada apa yach?" Jawabnya dan balik bertanya dengan rasa penasaran dan kaget atas kedatangan kami.

"Apa anda kenal dengan Zacky?"

"Iya saya kenal. Dia temen satu tim ku. Ada apa sich?"

"Sebelumnya perkenalkan dulu,namaku Andre dan ini adik saya namanya Inez." Jawab kak andre memperkenalkan diri sambil menjabat tangannya. Lalu aku juga menjabat tangannya. "Maksud kedatangan kami ke sini adalah untuk bertemu dengannya. Apakah saya bisa bertemu dengannya?" Lanjut kak andre.

"Och........jadi kamu yang namanya Inez? Maaf,aku nggak bisa bantu kalian." Sahut dewi.

"Iya aku Inez,emangnya kenapa Mbak?" Tanyaku penasaran.

"Heh.....kamu kan pacarnya,lagian sekarang kamu udah bisa ngeliat,kamu cari aja sendiri." Jawabnya dengan sada sedikit emosi.

"Mbak,kalo aku tau,aku nggak mungkin ke sini tanya sama Mbak. Justru aku ke sini karna aku tau Mbak adalah teman terdekatnya Zacky. Jadi aku mohon Mbak,kasih tau aku di mana Zacky sekarang. Selama ini dia adalah orang yang sudah banyak membantuku. Dan sekarang aku kehilangan jejaknya." Jawabku sambil menangis.

"Aku bilang nggak bisa ya nggak bisa. Kalian denger kan?" Balasnya marah.

"Iya tapi alasannya apa Mbak? Mbak,Mbak ini kan perempuan,pasti Mbak bisa merasakan apa yang adik saya rasakan kan? Jadi saya mohon Mbak,kasih tau di mana Zacky berada?" Sahut kak andre sedikit memohon.

"Maaf,aku nggak bisa. Aku masih banyak kerjaan. Permisi." Balasnya sambil berlalu pergi.

"Tapi Mbak,Mbak...........!!!" Teriakku sambil menangis dan berusaha mengejarnya.

"Sudah Nez,sudah........!" Bujk kak andre sambil menahan ku.

"Tapi Kak.......!" Sahutku sambil menangis dalam pelukan kak andre.

"Sudah,sudah. Kita cari ke tempat lain aja."

"Tapi ke mana Kak? Kita sudah nggak punya petunjuk lagi."

"Pasti ada Nez,kita harus yakin. Yach udah,sekarang kita pulang aja yach. Besok kita lanjutkan lagi." Pinta kak andre sambil merangkul pundakku.

"Aku rasa si Dewi itu menyembunyikan sesuatu Nez. Apa mungkin,dia juga suka sama Zacky?" Selidik kak andre.

"Aku sendiri nggak tau Kak." Jawabku singkat.

"Tapi ya udah lah. Apa pun itu,hanya dia yang tau."

* * * * *

Mentari bersinar dengan senyumnya yang indah. Menyapa pagi dengan penuh keceriaan. Burung-burung terbang ke sana-kemari,kicaunya menggambarkan kebahagiaan tang tiada tara. Embun pagi menyejukan kalbu yang kering. Sekering hatiku yang rindu pada Zacky.

"Tok tok tok" Tiba-tiba terdengar suara pintu kamarku diketuk.

"Nez,ini Kakak,buka pintunya dong." Panggil kak andre.

"Masuk aja Kak,pintunya nggak dikunci kok." Sahutku.

"Duch......pagi-pagi gini kok mukanya udah kusut kayak cucian kotor gitu sich?" Ledek kak andre saat masuk ke dalam kamarku. Lalu dia duduk di tepi ranjang menjejeriku. "Gimana,mau mencari Zacky lagi nggak?" Lanjutnya.

"Masih dong,walau aku harus mengejar bayangannya,akan aku lakukan demi cinta yang telah mendarah daging di hati dan jiwaku." Jawabku.

"Duch......segitunya.....!" Ledeknya sambil mengelus-ngelus kepalaku. "Tapi kira-kira kamu punya petunjuk lain lagi nggak?" Lanjutnya.

"Och yach,aku inget. Dulu dia pernah nhasih kalung buat aku dan surat tanda terimanya masih aku simpan. Gimana kalo kita cari melalui itu?"

"Betul juga. Kita datengin aja perusahaan jasa pengiriman itu. Ya udah,kalo gitu jangan buang-buang waktu lagi,kita berangkat sekarang aja."

"OK..........!!!"

Sejurus kemudian,aku dan kak andre tiba di perusahaan jasa pengiriman barang tersebut. Kami lalu bertanya kepada petugas di sana. Dan untungnya,petugas di sana bersedia membantu kami.

"Permisi Mbak." Sapa kak andre kepada petugas itu.

"Iya Mas,ada yang bisa kami bantu?" Tanya petugas itu.

"Begini Mbak,beberapa bulan yang lalu adik saya pernah menerima kiriman barang melalui jasa perusahaan ini. Ini surat terimanya,dan kami sedang mencari orang ini. Boleh nggak Mbak saya minta alamat orang ini?"

"Sebentar ya saya cari dulu,karna di sini hanya tertulis nomor SIM nya."

"Emang bisa ya Mbak nyari alamat hanya melalui nomor SIM?"

"Bisa." Jawab petugas itu singkat. "Nah ini dia alamatnya." Kata petugas itu lalu menulis nya di secarik kertas kemudian diberikan kepada kak andre. "Ini alamatnya,namanya Zacky Prasetya Darmawan. Tinggalnya di Pondok Indah." Lanjutnya.

"Terimakasih Mbak." Sahut kak andre sambil menerima kertas itu.

"Gimana Nez,apa kita mau cari alamat ini sekarang?" Tanya kak andre sesaat setelah berada di dalam mobil.

"Lebih cepat lebih baik Kak." Jawabku singkat.

Tanpa berlama-lama lagi,mobil kami pun meluncur ke arah Pondok Indah. Sejurus kemudian kami pun sampai di alamat yang kami cari. Karna memang alamat nya tidak sulit dicari. Kami pun turun dari mobil dan berdiri di depan gerbang. Rumahnya besar dan megah,gerbangnya pun tinggi dan kokoh. Kak andre lalu memencet bel yang ada di samping gerbang. Tak berapa lama keluarlah seorang perempuan setengah baya dari dalam rumah itu. Sepertinya dia pembokat di rumah ini karna dilihat dari penampilannya sangat biasa sekali. Tidak sesuai dengan rumahnya yang besar dan megah.

"Maaf Bu,saya mau tanya. Benar ini rumahnya Zacky?" Tanya kak andre begitu perempuan setengah baya itumenghampiri kami.

"Och......ini rumah kakaknya." Jawab perempuan setengah baya itu memberi tau.

"Bisa saya bertemu dengan beliau Bu?"

"Bisa,bisa. Sebentar yach saya panggilkan dulu."

"Terimakasih Bu."

Perempuan setengah baya itu pun pergi meninggalkan kami menuju rumah mewah itu. Tapi begitu dia mau membuka pintu,pintu itu sudah di buka dari dalam. Begitu orang yang ada di dalam rumah itu keluar terlihatlah seorang ibu muda. Sepertinya dialah si empunya rumah mewah ini. Lalu ibu muda itu berbicara beberapa saat dengan perempuan setenhah baya itu. Ibu muda itu kemudian berjalan menghampiri kami dan perempuan setengah baya itu mengikutinya dari belakang.

"Ada apa ya?" Tanya ibu muda itu kepada kami sambil membuka pintu gerbang.

"Benar anda yang punya rumah ini?" Jawab kak andre balik bertanya.

"Iya benar." Jawab ibu muda itu singkat.

"Berarti benar anda kakaknya Zacky?" Tanya kak andre lagi.

"Iya benar ada apa sich?" Tanya ibu muda itu penasaran.

"Maaf,sebelumnya perkenalkan dulu. Nama saya Andre dan ini adik saya namanya Inez. Bisa saya bertemu dengan Zacky Bu?" Jawab kak andre sambil menjabat tangannya. Aku pun ikut menjabat tangannya bergantian.

"Och........jadi kamu yang namanya Inez? Maaf,sebaiknya kalian pergi dari sini." Sahut ibu muda itu sinis.

"Tapi kenapa Bu? Apa salah saya?" Tanyaku penasaran.

"Tanya saja pada diri kamu sendiri. Cepat kalian pergi dari sini sebelum kemarahan saya memuncak....!!!" Usir ibu itu.

"Tapi apa salah saya BU? Selama beberapa bulan ii saya lost contact dengan Zacky. Selama ini dia sudah banyak membantu saya Bu. Dia sangat berjasa dalam hidup saya Bu. Jadi saya mohon,ijinkan saya bertemu dengan Zacky." Pintaku

"Saya bilang nggak bisa ya nggak bisa.......!!!" Jawab ibu itu marah lalu masuk ke dalam mobil yang sedari tadi terparkir di pinggir jalan depan rumahnya.

"Bu,Bu.....!!! Saya mohon Bu,ijinkan saya bertemu dengan Zacky." Pintaku sambil mengetuk kaca jendela pintu mobil. Tapi ibu itu tetap tidak peduli,dia lalu menjalankan mobilnya perlahan.

"Bu,saya mohon Bu. Sebentar saja." Pintaku sambil berlari mengejar mobil itu. Aku pun berdiri di depan mobil itu untuk menghadangnya. Tapi ibu itu masih tetap tidak peduli. Dia masih saja menjalankan mobilnya perlahan-lahan hingga mobil itu menyentuh badanku. Aku juga tidak peduli,aku tetap berdiri dengan terus memohon hingga aku tak kuasa menahan tangis. Tapi kak andre menahanku,dia menarikku untuk menjauh dari mobil itu.

"Inez,Inez,jangan nekat Nez." Pinta kak andre sambil menarikku.

"Bu,saya mohon Bu. Ijinkan saya bertemu dengan Zacky Bu,walau hanya sebentar saja." Pintaku sambil memukul-mukul kaca jendela mobil itu. Tapi ibu itu masih tetap tidak perduli,dia terus menjalankan mobilnya dan berlalu pergi meninggalkan kami.

"Kenapa sich Kak semua orang berusaha menghalangiku untuk bertemu dengan Zacky? Sebenarnya apa salahku Kak?" Tanyaku pada kak andre seraya memeluk tubuhnya dengan terus menangis.

"Kakak juga nggak tau Nez. Tapi kamu sabar yach,kamu harus kuat." Jawabnya mencoba menenangkanku. "Sebaiknya kita tanya saja sama ibu setengah baya itu. Siapa tau dia bisa ngasih informasi buat kita." Lanjutnya.

Kak andre lalu mengajakku menemui ibu setengah baya itu. Kemudian kak andre menanyakan alamat rumah orang tua Zacky padanya. Dan untungnya ibu itu bersedia memberitahukan di mana alamatnya.

"Maaf Bu,kira-kira Ibu tau nggak Zackytinggal di mana?" Tanya kak andre pada ibu itu.

"Setau saya,sekarang diatinggal bersama orangtua nya di Lampung." Jawab ibu itu.

"Di Lampung............?!?" Tanyaku kaget.

"Ibu tau nggak alamat jelasnya di mana?" Tanya kak andre lagi.

"Iya saya tau. Nama ayahnya Bapak Darmawan,alamatnya di Jalan Tikungan Maut No.14 RT08/06,Pringsewu,Tanggamus,Lampung 35373." Jawab ibu itu memberi tau.

"Terimakasih Bu." Sahut kak ande setelah mencatat alamat itu di HP nya.

Setelah mendapatkan alamat itu,kami pun bergegas pulang. Sepanjang perjalanan,aku terus memikirkan Zacky. "Apakah aku harus mencarinya ke Lampung? Tapi aku,Kak Andre,dan orang tuaku belum ada yang pernah ke Lampung. Tapi bagaimana pun dan apa pun yang terjadi,aku harus ke sana untuk mengetahui jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan yang mengusik ketenangan hidupku." Pikirku.

* * * * *

Malam harinya,kami sekeluarga mendiskusikan tentang rencanaku pergi ke Lampung. Awalnya papa menolak,alasannya karna diantara kami tidak ada yang tau seluk beluk wilayah Lampung karna memang tidak ada yang pernah ke sana. Tapi atas penjelasan kak andre dan rengekan ku,papa pun menyetujuinya. Karna dari dulu papa memang tidak bisa melihatku merengek-rengek.

Setelah mempersiapkan segala sesuatunya,pagi harinya,aku bersama kak andre berangkat ke Lampung di temani pak kariman,sopir pribadi keluarga ku. Papa tidak bisa ikut karna sedang banyak kerjaan. Sedangkan mama,mama harus menemani papa di rumah untuk menyiapkan segala kebutuhan sehari-hari papa.

Tepat jam delapan pagi kami pun berangkat. Tujuan pertama kami adalah pelabuhan Merak,selanjutnya kami naik kapal laut menuju pelabuhan Bakau Heuni. Inilah kali pertama aku naik kapal laut,begitu juga dengan kak andre. Aku dan kak andre berdiri di pinggiran kapal. Menikmati pemandangan laut yang jarang sekali aku temui. Di sana-sini terdapat gunung-gunung kecil yang tertata dengan rapihnya. Angin terus berhamburan menerpa wajahku dan menerbangkan rambutku yang tergerai panjang.

Aku jadi teringat kembali dengan Zacky. Dulu dia pernah mengajakku pergi ke pantai. Dengan bahasa yang sangat sederhana,dia menjelaskan keindahan pemandangan pantai sore itu untukku. Dia juga berjanji akan mengajakku ke sana lagi saat aku sudah bisa melihat untuk menikmati panorama senja itu lagi.

Ku genggam erat-erat kalung setengah hatipemberian Zacky yang bergelayut di leherku. Tanpa terasa bulir-bulir bening menetes dari mataku. Aku kian tak sabar saja untuk segera bertemu dengan Zacky. Seperti apakah mukanya,karna selama ini dia nggak pernah memberikan fotonya untukku. Aku hanya tau dari cerita-cerita mama yang menjelaskan tentang ciri-ciri Zacky.

Akhirnya kami sampai juga di pelabuhan Bakau Heuni. Orang-orang berhamburan turun dari kapal. Mobil dan motor pun keluar beriingan. Suara teriakan klakson terdengar sangat bising memberi isyarat agar si empunya kendaraan menjalankan kendaraannya dengan cepat. Sesampainya di pelataran pelabuhan,pak kariman turun daaari mobil dan menemui polisi yang sedang berjaga-jaga di area pelabuhan untuk menanyakan arah jalan menuju Pringsewu.

"Selamat siang Pak." Sapa pak kariman kepada polisi itu.

"Selamat siang,ada yang bisa dibantu Pak?" Balas polisi itu.

"Iya Pak,kalau daerah Pringsewu arahnya ke mana yach?" Tanya pak kariman. "Soalnya saya belum pernah ke sana." Lanjutnya.

"Och......belum pernah ke sana? Begini saja Pak,biar Bapak nggak bingung dan nyasar,sebaiknya Bapak ikuti saja mobil biro perjalanan itu. Pemberhentian terakhir mobil itu adalah di Pringsewu. Setelah itu,baru Bapak tanya lagi di mana alamat yang Bapak tuju." Jawab polisi itu sedikit menjelaskan sambil menunjuk mobil biro perjalanan yang akan menuju ke Pringsewu.

"Baiklah kalau begitu,terimakasih atas informasinya Pak."

"Sama-sama." Jawab polisi itu singkat.

Setelah beberapa saat lamanya,kami pun berangkat ke Pringsewu mengikuti mobil biro perjalanan yang membawa penumpangnya ke Pringsewu. Jalanannya berkelok-kelok naik turun melewati hutan dan bukit. Setelah itu pun kami memasuki wilayah perkotaan yang padat merayap yang bernama Bandar Lampung.

Mobil terus melaju meninggalkan perkotaan yang padat itu. Kami kembali melewati jalanan yang sepi. Di kanan-kiri jalan masih banyak terdapat hamparan sawah yang hijau bak lembaran karpet. Di belakangnya terdapat gunung yang menjulang tinggi. Dan di sebelah nya berdiri bangunan kokoh,sepertinya itu rumah burung walet. Karna di bagian atasnya banyak sekali burung-burung walet yang berterbangan keluar masuk gedung itu. Di sebalah barat,nampak matahari mulai mendekati peraduannya yang indah dan aurora jingga pun menyelimuti wajahnya yang sendu.

Tiga jam telah berlalu,akhirnya tepat jam lima sore kami sampai juga di perempatan lampu merah pasar Pringsewu. Mobil biro perjalanan itu lalu belok kanan dan tak jauh dari situ mobil itu berhenti di pemberhentian terakhir. Kami pun memutuskan berhenti di restoran Enak Rasanya yang berada di seberang jalan tepat di depan perusahaan biro perjalanan itu untuk mengisi perut yang keroncongan. Karna dari siang kami cuma makan roti saja,itu kami lakukan karna kami tidak mau ketinggalan oleh mobil biro perjalanan yang menuju ke Pringsewu. Kemudian kak andre bertanya kepada pelayan restoran yang sedang menghidangkan makanan di atas meja kami.

"Mas,mau tanya. Kalo jalan tikungan maut itu di sebalah mana yach?" Tanya kak andre pada pelayan itu.

"Och......kalo dari sini,Mas lurus aja ke arah utara. Nanti kalo Mas menemui tikungan tajam yang sedikit menanjak,nah di situ Mas. Tikungan itu sangat terkenal di sini Mas. Soalnya di tikungan itu sering terjadi kecelakaan yang menyebabkan korbannya meninggal dunia. Makanya tikungan itu dinamaka tikungan maut. Mungkin alamat yang Mas cari ada disekitar situ." Jawab pelayan itu menjelaskanpanjang lebar.

"Kalo begitu terimakasih Mas."

"Sama-sama."

Selesai makan kami memutuskan untuk menginap di hotel Mimpi Indah yang tak jauh dari restoran itu dan melanjutkan perlanan besok pagi. Karna hari sudah gelap dan aku lihat pak kariman sudah kecapean karna seharian penuh menyetir mobil. Kami memesan dua kamar,satu untukku dan satu lagi untuk kak andre dan pak kariman.

Setelah membersihkan diri,aku merebahkan tubuhku yang kelelahan ke atas ranjang. Pikiranku kembali tertuju pada Zacky. Hati ini sudah tak sabar menunggu pagi. Ingin rasanya aku berlari sekarang juga ke rumah Zacky agar aku dapat segera bertemu dengannya. Tapi aku mencoba menenangkan diri hingga tak sadar aku pun tertidur pulas.

Pagi harinya,setelah bersiap-siap kami pun berangkat ke rumahnya Zacky. Sejurus kemudian kami pun sampai di sebuah rumah yang sangat megah dan besar yang berada tak jauh dari tikungan tajam itu. Aku dan kak andre pun turun dari mobilsementara pak kariman menunggu di dalam mobil. Kak ande lalu memencet bel yang ada di samping pintu gerbang. Tak lama kemudian keluarlah seorang bapak yang hampir seluruh rambutnya berwarna putih. Meski sudah tua tapi badannya masih terlihat segar. Bapak berambut putih itu pun menghampiri kami.

"Permisi Pak. Maaf saya mau numpang tanya. Jalan Tikungan Maut No.14 itu yang mana yach?" Tanya kak andre pada bapak itu.

"Och ya ini. Ini alamat yang anda cari. Ini rumah saya,ada apa ya?" Tanya bapak itu penasaran.

"Och....ini...? Bisa saya bertemu dengan Bapak Darmawan?"

"Ya,saya sendiri. Anda ini siapa ya dan ada perlu apa?"

"Boleh kami masuk Pak? Sebaiknya kita bicara di dalam saja Pak."

"Boleh,boleh. Silahkan masuk." Jawab pak darmaan sambil menyuruh kami masuk. "Silahkan duduk." Lanjutnya seraya mempersilahkan kami duduk di kursi teras rumahnya.

"Sebelumnya kami mohon maaf kalo kedatangan kami mengagetkan Bapak. Perkenalkan nama saya Andredan ini adik saya ,namanya Inez. Maksud kedatangan kami ke sini adalah kami ingin betemu dengan Zacky,Pak." Jelas kak andre.

"Och jadi kamu yang namanya Inez?" Tanya pak darmawan emosi sambil mengacungkan tangannya ke arahku. "Pergi kalian dari sini. Aku tidak mau melihat kalian ada di sini. Cepat pergi......!!!" Usir pak darmawan dengan emosi yang meledak-ledak.

"Pak,sabar Pak. Jangan marah-marah dulu Pak. Bisa Bapak jelaskan apa salah adik saya sehingga sepertinya semua orang membencinya?" Tanya kak ande ikut berdiri.

"Aku mohon Pak,ijinkan aku bertemu dengan Zacky walau hanya sebentar saja. Selama ini Zacky sudah banyak membantuku,dia banyak berjasa dalam hidupku Pak. Jadi aku mohon,ijinkan aku bertemu dengannya." Sahutku memohon.

"Persetan dengan itu semua. Cepat pergi dari sini..........!!!" Teriak pak darmawan makin marah.

"Aku mohon Pak,sebentar saja. Biarkan aku bertemu dengan Zacky." Pintaku sambil menangis.

"Ada apa ini Pak,kok ribut-ribut?" Tanya seorang ibu yang keluar dari dalam rumah.

"Aku Inez Bu. Aku mohon ijinkan aku bertemu dengan Zacky." Pintaku pada ibu itu dengan terus menangis.

"Jadi kamu yang namanya Inez? Ya ampun Inez anakku. Sudah lama sekali Ibu ingin bertemu dengan kamu Nak." Sahut ibu itu sambil menangis. Lalu dia memelukku erat-erat,tangisnya pun meledak-ledak.

"Sebenarnya apa yang terjadi Bu? Kenapa semua orang sepertinya membenciku? Apa salahku Bu?"

" Tidak ada yang salah padamu Nak."

"Lalu kenapa semua orang berusaha menghalangiku untuk bertemu dengan Zacky,Bu?"

"Zacky,Nak. Zacky.........!!!"

"Ada apa dengan Zacky,Bu? Tolong jelaskan padaku Bu,jangan buat aku tambah penasaran."

"Zacky,Zacky sudah meninggal. Dan dia menyumbangkan matanya untukmu. Makanya,tadi begitu Ibu melihatmu,Ibu seperti melihat Zacky."

"Apa..........?!? Zacky sudah meninggal.......?!?" Tanyaku kaget sambil melepaskan pelukan ibu. "Nggak mungkin Bu,nggak mungkin. Ibu pasti bohong kan sama aku? Ibu bohongkan? Katakan Bu........! Di mana Zacky sekarang Bu,ijinkan aku bertemu dengannya Bu." Desakku tidak percaya.

"Ibu tidak bohong Nak,tidak. Inilah kenyataan yang sebenarnya."

Tiba-tiba tubuhku terasa lemas. Hatiku seperti di sayat-sayat. Langit seakan runtuh dan semua terasa gelap. Aku pun jatuh pingsan. Tapi kak andre berhasil menangkapku. Dia lalu membopongku dan membawaku masuk ke dalam rumah,lalu menidurkan ku di sofa ruang tamu. Kak andre terus berusaha membangunkanku. Sedangkan bapak mengambilkan air putih di belakang. Sementara ibu,ibu terus menangis sambil meletakan kepalanya di keningku seraya mengusap-usap pipiku. Tangisnya terus meledak-ledak,hingga suasana haru pun tercipta di ruangan itu.

Saat sadar,kepalaku sudah berada di pangkuan ibu. Ibu masih saja terus menangis tersedu-sedu. Kemudian aku bangun dan memeluk ibu. Tangisku kembali pecah. Aku masih tidak percaya dengan kenyataan yang ku terima. Tapi ibu berusaha menenangkanku.

"Yang sabar ya Nak,sabar. Kamu harus kuat. Kamu harus tegar menerima kenyataan pahit ini." Ucap ibu menenangkanku sambil mengelus-elus kepalaku.

"Sebenarnya Zacky meninggal karna apa Bu?" Tanyaku sambil melepaskan pelukanku. Saat kuarahkan pandangan ku ke bapak dan kak ander,ku lihat mereka juga ikut menangis. Sepertinya mereka juga tidak bisa menerima kenyataan pahit ini.

"Zacky,Zacky mengidap leukimia hingga akhirnya meninggal dunia. Saat kakaknya mau menyumbangkan sum-sum tulang belakangnya,Zacky menolak. Dia malah menyarankan agar ketika dia meninggal,matanya di sumbangkan untukmu Nak. Katanya ini semua dia lakukan demi cintanya padamu. Dia ingin kamu bisa melihat lagi. Zacky sangat mencintaimu,makanya dia melakukan semua ini." Jawab bu damawan menjelaskan.

"Ini semua nggak adil,ini nggak adil Bu. Aku lebih baik buta tapi Zacky ada di sampingku daripada aku bisa melihat tapi Zacky nggak ada Bu."

"Tapi ini lah kenyataannya Nak,inilah takdir yang sudah digariskan oleh Sang Pencipta. Kita tidak bisa menolaknya."

"Bu,aku mohon antarkan aku ke makam Zacky. Sekarang juga." Pintaku.

"Baiklah Nak."

Sejurus kemudian kami sudah sampai di pemakaman tempat Zacky dimakamkan. Begitu sampai di depan makam Zacky,aku langsung memeluk makamnya. Ku tumpahkan segala rindu yang selama ini terpendam di dasar hatiku. Aku pun tak kuasa menahan tangis.

Hujan pun turun,seakan ikut berduka. Aku terus memeluk makam Zacky. Aku sudah tidak peduli dengan sekelilingku. Kak Andre,Bapak dan Ibu Darmawan berdiri di samping makam Zacky,mereka hanya bisa menyaksikan apa yang sedang aku lakukan. Ku tumpahkan segala isi hatiku di situ.

"Zacky....!!! Bangun Zack..........!!! Bukankah kamu sudah berjanji padaku,kalo aku sudah bisa melihat,kamu akan mengajakku ke pantai untuk menyaksikan panorama senja lagi. Zacky.....bangun...........!!! Aku nggak mau kehilangan kamu. Aku lebih baik buta tapi kamu ada di sampingku daripada aku bisa melihat tapi kamu nggak ada. Zacky........kamu dengar kan........?!? Zacky.........!!! Zack.....aku tau,kamu di sana sedang kesepian kan.....?!? Karna kamu pernah bilang padaku kalo hujan turun berarti kamu sedang kesepian. Zacky,dengarkan aku,aku akan selalu di sini untuk menemanimu."

Yang bisa kulakukan hanyalah menangis dan menangis di atas makam Zacky. Impianku untuk melihat wajah Zacky,pupus sudah. Aku hanya bisa memandangi fotonya. Ku satukan kalung setengah hati pemberian Zacky hingga menjadi satu hati. Karna aku tau,dia pasti bisa melihat dari atas sana. Dan dia pasti bahagia karna aku sudah melakukan permintaannya yang dia utarakan lewat surat yang dia kirim untukku dulu.

Akhirnya,setelah semua peristiwa yang terjadi padaku,aku ikut Kak Andre ke Australia dan kuliah di sana. Juga untuk melanjutkan hidupku dan menatap masa depan yang lebih cerah. Karna aku tidak mau terus terpuruk dalam kesedihan. Dan apa yang terjadi antara aku dan Zacky,hanya tinggal kenangan dan akan menjadi hikayat cinta yang tak kan pernah ku lupakan seumur hidupku.

* * * THE END * * *

Diselesaikan di Kampung Rambutan,Ciracas,Jakarta Timur
Sabtu,22 November 2008
Pukul: 20:48 WIB

Thanks to Allah swt,ke dua orang tua ku,sahabat-sahabat ku (khususnya Rizka and Rita) yang sudah memberikan datanya sehingga cerpen ini dapat terselesaikan. Cerpen ini aku persembahkan untuk semua orang yang sudah berjasa dalam hidupku. Semoga cerpen ini dapat memberikan hikmah yang baik untuk semua orang.

Cerita ini hanya fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama,tokoh,tempat kejadian,ini karna faktor ketidak sengajaan.

No comments: